Di Manakah Lokasi Atlantis, Peradaban Yang Hilang

Baca Juga

Harian Pati - Atlantis, Sebuah Mitos yang masih menjadi teka-teki yang selalu menarik untuk di telusuri.

Mitos tentang Atlantis sebuah peradaban yang mungkin pernah ada di muka bumi tapi musnah tiada berbekas pertama kali dicetuskan oleh seorang ahli filsafat asal Yunani, Pato (427-347 SM) yang di tulis dalam sebuah buku Critias dan Timaeus”. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa aada sebuah peradaban yang disebut dengan "Atlantis" yang dianggap sebagai makhluk superior yang kemudian karena suatu hal kemudian lenyap dari muka bumi.
Selama lebih dari ribuan tahun, dongen tentang Atlantis selalu menjadi misteri dan sangat menarik untuk diteliti. Sejak abad pertengahan, Atlantis kembali populer di dunia barat dan banyak ilmuwan yang secara diam-diam melakukan kajian tentang peradaban yang hilang tersebut.

Dari beberapa kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan akhirnya menarik beberapa kesimpulan tentang dugaan letak dari Atlantis yaitu:

Hanya beberapa tempat di bumi yang keberadaanya memiliki persyaratan untuk diduga sebagai Atlantis sebagaimana yang dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 Abad yang lalu. Para peneliti masa kini malah menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat)  sebagai salah satu lokasi yang sangat mungkin sebagai lokasi Atlantis yang hilang.

Paara peneliti zaman dulu beranggapan bahwa lokasi dari Atlantis yang hilang terdapat di belahan bumi Barat atau tepatnya berada di sekitar Atlantik atau kalau tidak berada di sekitar Timur Tengah.
Namun diakhir Dasawarsa 90-an, asumsi tentang letak Atlantis yang hilang mulai bergeser ke Wilayah Asia Tenggara setelah dua orang peneliti yaitu Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) menerbitkan hasil penelitian mereka.

Kontroversi dan Rekontruksi Oppenheimer
Kontraversi ini mulai mencuat ke publik sejak Oppenheimer menerbitkan buku berjudul Eden The East pada tahun 1999. Oppenheimer sendiri adalah seorang ahli genetic yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Dalam buku tersebut ditulis bahwa Paparan Sunda (SUndaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau yang dalam agama dikenal sebagai Taman Eden. Istilah tersebut diambil dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama Firdaus yang kemudian diserap dalam oleh orang persia  menjadi "Pairidaeza" untuk menyebut sebuah taman.

Dalam buku karangannya Oppenheimer ditulis bahwa peradaban-peradaban yang ada di seluruh dunia adalah merupakan turunan dari peradaban yang ada di Sundaland yang penduduknya melakukan Migrasi karena adanya bencana alam di daaerah Asal mereka. Pendapat tersebut didasari atas penelitian Etnografi, Arkeologi, Osenografi, Mitologi, Analisa DNA dan Linguistik. Para Imigran dari Asia Tenggara tersebut melkukan perjalanan untuk mencari selamat akibat bencana banjir besar yang kisahnya diceritakan dalam setiap kebudayaan yang ada di muka bumi. Merekalah yang merupakan leluhur dari Bangsa Austronesia.

Rekontruksi yang dilakukan oleh Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya zaman es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Di mana Kepulauan Nusantara diduga masih tergabung menjadi satu dengan Benua Asia yang dikenal dengan Sundaland.

Namun akibat meningkatnya suhu bumi, Timbunan es yang ada di Kutub menyebabkan sebagian besar dataran yang ada di dunia menjadi tergenangi air disebabkan naiknya permukaan air laut.

Dari data geologi dan oseanografi tercatat bahwa dunia ini pernah dilanda tiga banjir besar yaitu terjadi sekitar tahun 14.000 SM, 11.000 SM dan 8.000 SM sehingga akibat banjir yang terakhir mengakibatkan air laut naik menjadi 5-10 meter lebih tinggi dari saat ini sehingga menjadikan sebagian dari Sundaland menjadi pulau terpisah yang kemudian dikenal sebagai Nusantara atau Indonesia.

Padahal daerah yang tergenang sampai sekarang waktu itu merupakan daerah padat penduduk yang dihuni oleh manusia yang hidup sebagai petani dan nelayan.
Kontroversi dari buku yang diterbitkan oleh Oppenheimer tersebut dikuatkan oleh seoran peneliti dari Brazil, Professor Arysio Santos yang selama 30 tahun melakukan penelitian dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Atlantis pada tahun 2005. Dalam buku tersebut Santos menulis bahwa Atlantis yang dianggap sebagai benua yang hilang seperti yang diceritakan oleh Plato adalah wilayah yang sekarang disebut sebagai Indonesia. Dalam buku tersebut Santos menampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, Cuaca, Kekayaan alam, Gunung Berapi, Cara bertani dan sebagainya yang mengerucut pada satu kesimpulan bahwa Atlantis adalah Sundalan ( Indonesia Bagian Barat).

Dalam buku tersebut Santos menuturkan bahwa dimasa lalu Atlantis adalah sebuah wilayah yang membentang dari sebelah selatan India, Sri Langka dan Indonesia Bagian Barat Meliputi: Jawa, Sumatra dan Kalimantan yang berpusat di Indonesia Bagian Barat. Saat itu wilayah Indonesia Bagian Barat memiliki puluhan gunung berapi aktif yang dikelilingi oleh samudra yang saat itu masih menyatu yang dikenal dengan "Orientale" yang merupakan gabungan dari Samudra Hindia dan Pasifik.

Untuk memperkuat argumennya, Santos didukung oleh beberapa orang arkeolog dari USA yang berkeyakinan bahwa Benua Atlantis terletak di Nusantara yang tenggelam akibat banjir besar.

0 Response to "Di Manakah Lokasi Atlantis, Peradaban Yang Hilang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel